Saturday, May 19, 2018

Buatku, menuntut ilmu itu harus NEKAT!

Disclaimer: Aku nulis begini bukan buat encourage kalian menyusup di conference mahal.  Resikonya besar, mamen! kecuali kalo kamu udah expert nyusup di acara besar nan mahal sih....


Hari ini, seperti biasa, aku menghabiskan malam-malamku menjelajah internet mencari referensi untuk thesisku. Aku membahas Contrastive Rhetoric dan dengan rakusnya aku mendownload puluhan, bahkan mungkin ratusan artikel dari berbagai jurnal yang membahas Contrastive Rhetoric.

Nah, ditengah-tengah pencarianku, ternyata ada satu hasil pencarian yang mengarah ke kumpulan abstrak yang dikirim ke TEFLIN/ASIATEFL conference 2017 di Jogjakarta dulu. Iya, aku dulu menghadiri conference itu dan perjalananku ke Jogja itu menyisakan perasaan campuraduk yang begitu mendalam. Antara bersyukur, bangga, bahagia, dan... perasaan bersalah dan menyesal.

Misalnya postinganku ini dibaca dosen-dosenku atau panitia TEFLIN/ASIATEFL 2017 kemarin, duh... semoga aku nggak dituntut. Semoga nggak dilaporin ke pihak UNY selaku tuan rumah, ato kepolisian, ato pengadilan. Apa yang aku lakukan ini gak merugikan siapapun.

Mamen, TEFLIN adalah konferensi pendidikan bahasa Inggris tertinggi se Indonesia dan ASIATEFL adalah konferensi pendidikan bahasa Inggris tertinggi se Asia. Tahun kemarin mereka digabung pelaksanaannya di jogja. Awalnya aku tidak berniat ikut, karena aku gak punya stok paper untuk dipresentasikan. Lagian aku juga baru saja presentasi di sebuah konferensi internasional di solo, jadi aku merasa belum perlu untuk punya sertifikat presenter lagi. (Saat itu prodiku mewajibkan mahasiswa untuk presentasi di conference sebagai salah satu syarat maju ujian, tapi sekarang kewajiban itu dihapuskan).

Namun, dua minggu sebelum tanggal pelaksanaan, aku berubah pikiran. Di salah satu grup fb yang kuikuti, terdapat info tentang TEFLIN/ASIATEFL 2017 itu. Daftar presenter yang akan tampil diupload di grup itu. Kemudian aku membacanya dan.... tiba-tiba aku tertohok. Mereka itu orang-orang yang selama ini hanya kukenal namanya lewat buku dan jurnal. Mereka itu orang-orang hebat, para pembaharu teori, mereka adalah pembawa pencerahan. Aku membutuhkan mereka untuk memperluas ilmuku dan menambah khazanah pengetahuanku. Aku harus bertemu mereka.

Ada sesuatu yang membuncah dalam dadaku ingin keluar. Ada hasrat yang sangat ingin dipenuhi. Aku harus berangkat. Namun apa daya, uang di ATMku hanya tersisa satu juta rupiah. Tidak sanggup membeli tiket yang seharga Rp 2.650.000,- itu.

Tidak mungkin meminta ke orang tua, itu jumlah yang sangat besar. Mau pinjam uang di bank juga aku takut, karena riba nya cukup menjerat. Mau menjual barang berharga pun tidak mungkin karena aku tidak yakin ia bisa segera laku dalam waktu yang singkat. Akhirnya, walau dengan menanggung malu merepotkan kakak kelas yang berangkat ke konferensi itu, aku memutuskan untuk nekat ikut acara itu dengan cara yang tidak semestinya. Iya, aku nekat masuk ke acara itu tanpa registrasi, tanpa membayar. Menyelundup!

Aku benar-benar pergi ke jogja hari itu, walau dengan ketar ketir.

Beberapa waktu yang lalu aku mendengar berita kerusuhan yang dibuat supporter persebaya (bonek) saat persebaya berlaga di Semarang. Ratusan bonek datang ke Semarang untuk mendukung Persebaya, tapi tanpa tiket. Mereka memaksa ingin masuk stadion, namun dihadang oleh pihak panitia sehingga terjadi kerusuhan. Panitia berkata pada mereka yang bergerombol di luar stadion, "OK, hari ini persebaya akan main. Yang punya tiket, ayo nonton bareng. Yang tidak punya tiket, mohon tidak memaksakan diri". Namun pernyataan panitia tersebut disambut protes oleh para Bonek. "Kami datang kesini mengawal Persebaya! Terus gimana dengan kita!" sontak aku merasa dejavu karena itulah yang kurasakan saat berniat nekat ke Jogja saat itu.

Mungkin akan ada orang yang berkata padaku seperti itu, jangan memaksakan diri. Tapi aku merasa kesempatan ini hanya sekali seumur hidup. ASIATEFL akan digabung dengan TEFLIN. Aku tidak mau melewatkannya.

Again. Misalnya postinganku ini dibaca dosen-dosenku atau panitia TEFLIN/ASIATEFL 2017 kemarin, duh... semoga aku nggak dituntut. Semoga nggak dilaporin ke pihak UNY selaku tuan rumah, ato kepolisian, ato pengadilan. Apa yang aku lakukan ini gak merugikan siapapun.

Aku setel yakin aja, bismillah, niat ini baik. Aku mau cari ilmu. Setahuku, ilmu Allah itu sangat luas, jika samudera dijadikan tinta dan pohon dijadikan pena, nggak cukup itu semua buat nuliskan ilmu-Nya. Allah mendukung dan membantu siapapun hambaNya yang haus mencari ilmu. Aku yakin bakalan dipermudah! aku berniat baik. Ini ilmu tentang pengajaran bahasa Inggris yang akan bermanfaat buat aku dan murid-muridku nantinya. Bukan ilmu sesat, ilmu pelet, santet, ato pesugihan. Insya Allah, aku yakin banget, Allah bakalan ridho kalo aku mencari ilmu yang bermanfaat seperti ini.

dan akhirnya aku benar-benar masuk ke venue konferensi akbar seumur hidup sekali itu.

Dua plenary session yang berhasil aku masuki dengan cara terus menggandeng erat tangan dosenku saat masuk ruangan


aku pasang muka tembok aja ketika datang ke venue. Tanpa ID card di leher, tanpa goodie bag official. Toh banyak juga yang tidak memakai fasilitas mereka. aku mendatangi stan pameran buku, mencatat harga, berbincang-bincang dengan penjualnya, yaaa macak peserta legal lah. Aku pura-pura nggak bingung walau sebenarnya bingung juga gimana caranya masuk ke parallel session lah wong harus ambil tiket dulu sebelum masuk ruangan. Akhirnya aku sering ngekor kakak kelasku dan dosenku masuk ke berbagai parallel session, dan kucing-kucingan sama LO untuk masuk ruangan.
Terus berdoa jangan sampai ketahuan panitia kalo aku ikut secara ilegal.

Look at the circles. Itu fasilitas peserta, dan aku tidak punya. Tapi aku berhasil masuk :)


Terpaksa ambil barang haram karena kelaparan

Salah satu parallel session yang berhasil kususupi dan aku bertanya pada presenternya. Alhamdulillaah.....

Di acara itu, yang aku ambil hanyalah brosur, beberapa potong buah, sepiring snack, segelas kopi, dan ilmu yang kugenggam sampai sekarang. Oke, kalo makanan yang aku telan, aku tahu itu memang hukumnya haram, tapi gimana lagi, aku kelaparan. Dan aku sudah menyesali keputusanku mengambil makanan itu. Tapi kalo ilmu, apa ya haram?
Apa ada orang yang dipenjara hanya karena menimba ilmu?
Apakah Guillaume Dumas dipenjara karena dia pernah nyusup kuliah di kampus-kampus Ivy League dan mendapat ilmu dari berbagai matkul lintas disiplin ilmu?

Aku bahagia sekali bisa belajar di forum ini


Nggak ada ceritanya aku mencuri sesuatu yang harganya mahal dari venue conference itu sampe panitia harus merugi
(Dan emang iya, ada berita kehilangan laptop pas hari pertama acara itu. Itulah yang membuat kakak kelas yang membersamaiku di kamar hotel melarangku datang lagi di hari ketiga, karena di hari ketiga pengawasannya diperketat. Dan aku literally nangis di kamar hotel pas hari ketiga itu! Menurut info dari temenku, saat dilihat di CCTV, pelakunya - maaf, no sara- Chinese)
Nggak ada ceritanya aku bikin rusuh sampe acara molor. Nggak ada ceritanya aku nanyain pertanyaan kontroversial sampe satu ruangan geger. Aku pasif sekali, hanya dua kali tanya itupun di parallel session yang sepi penonton.

Again. Misalnya postinganku ini dibaca dosen-dosenku atau panitia TEFLIN/ASIATEFL 2017 kemarin, duh... semoga aku nggak dituntut. Semoga nggak dilaporin ke pihak UNY selaku tuan rumah, ato kepolisian, ato pengadilan. Apa yang aku lakukan ini gak merugikan siapapun.

Float pernah bilang di salah satu lagunya, ada liriknya yang berbunyi seperti ini:
"Lewat sudah, 3 hari tuk slamanya. Dan kekallah detik detik didalamnya....."

Tiga hari conference itu telah kulalui. Hampir setahun berlalu, setiap kali aku mengingat momen itu, aku selalu merasakan hal yang sama. That excitement, tho...

Kalo ditanya aku merasa bersalah apa nggak, jelas ada perasaan bersalah. Aku akuin, tanpa ID card dan tas batik official mereka, aku agak kurang bebas masuk sana sini. Ato aku aja yang gak canggih?
Seharusnya acara seperti itu bisa terjangkau oleh bu guru berkantong cethek seperti aku.
Seharusnya pascasarjana bisa membiayai mahasiswa yang ingin ikut konferensi. SPP kita kan mahal, mamen!
Seharusnya aku tidak perlu senekat ini untuk mencari ilmu.


Hari ini aku nyesek kalo mengingat betapa aku harus menanggung malu pada kakak kelasku karena merepotkan mereka untuk menyelundupkan aku ke conference mahal. Hingga kini aku merasa berhutang budi pada mereka berdua, dan aku selalu berusaha membalas kebaikan mereka.

Aku tahu di luar sana banyak orang yang ingin mengikuti conference ini namun terhalang biaya. Dan mereka cuma bisa menghela nafas dan bersabar, menunggu ada rezeki untuk ikut. Sedangkan aku berani menyusup demi mendapatkan ilmu dari para ahli. Aku tahu, pasti ada yang nyinyir dengan kelakuanku. Aku tahu mereka ingin menyusup juga tapi mereka tidak menyangka aku berhasil melakukannya. Aku tahu mereka kontra.

Hari ini aku nyesek mengingat betapa aku harus nekat, pasang muka tebal, tutup kuping rapat rapat saat mengikuti conference secara ilegal karena tidak sanggup membayar.
Tapi lihatlah beberapa puluh tahun lagi.... aku datang ke conference tinggal slunyur, duduk manis di bangku VIP, memberikan plenary speech, dan menerima bingkisan bunga.


Mamen, suatu hari nanti aku mau nyusup di conference yang ngundang mbah chomsky. Ato paul kei matsuda. ato ulla connor. ato douglas brown. ato george yule. ato robert kaplan.... eh bentar, kaplan masih ada kan? sebenernya pengin Halliday, tapi sayangnya beliau berpulang bulan kemarin :'(

Aku tahu perbuatanku salah, namun setidaknya aku berusaha untuk tidak merugikan orang lain saat itu.
Dan aku meyakini innamal a'malu binniyat. segala sesuatu berdasar dari niatnya. Semoga dicatat sebagai amal ibadah, amiin...

Karena ilmu itu....

tidak akan habis diselami.
Seandainya, semua matkul English Linguistics yang ada di seluruh kampus di dunia ini bisa aku datangi kuliahnya tanpa disergap, "Woy, kamu siapa?"

seandainya, ya.....

No comments:

Post a Comment