Sunday, October 19, 2025

Dari koridor GKB 1 yang kususuri semester lalu.

Hai, akhirnya aku nulis di sini lagi.

Sengaja nggak nulis di Thread ato X karena takut viral. Apalagi, aku gak mau kolegaku tahu akunku (iyes aku pake second account buat follow mereka). Dan blog ini, aku yakin udah banyak yang gak ingat. Terakir aku koar-koarin blogku tuh 2012 apa ya?

Eh, anyway, masih aktif kah dunia ngeblog? aku udah lama gak ngecek dunia perbloggeran sih.

Bertahun-tahun hidup, kalo ngeliat ada temen umroh, aku selalu titip doa. Dalam hati aku berpikir, "yaa untuk saat ini belum prioritas lah ya, ntar aja deh kalo aku udah dostap yg udah serdos dan gajiku lebih tinggi, baru aku mikir nabung umroh"

Sampe akhirnya aku kerja di kampus Islam terbesar di kotaku ini.

Di suatu sore bulan Ramadhan, kami mengikuti kegiatan itikaf yang diadakan di masjid kampusku. Diawali sholat ashar berjamaah, lalu kami berpindah dari masjid ke lantai bawah, ke sebuah ruangan aula yang tidak terlalu besar, untuk mengikuti sebuah kajian yang mengundang salah satu petinggi organisasi. Saat kami berbondong-bondong menuju aula itulah kami berdesak-desakan, melewati koridor yang tidak terlalu luas. Lalu salah satu ibu-ibu -- mungkin dosen fakultas sebelah -- nyeletuk, "wah iki latihan umroh iki", dan ada yang menyahut "aaamin"

sesampainya di ruang aula, kami duduk manis dan mendengarkan ceramah. Ada kolegaku yang membawa anak toddlernya. Anak itu manis sekali, lalu aku bertanya pada ibunya bolehkah aku memberinya biskuit? dan ibunya membolehkan. Akhirnya aku memberikan biskuit keju ke dia. Ia melahapnya dengan nikmat. Aku hanya tersenyum melihatnya. Lalu aku memotret keadaan aula itu dimana semua ibu-ibu mendengarkan dengan seksama. Kukirimkan ke story whatsapp. Tak berselang lama, bulikku mengomentari storyku. "lagi umroh kah, ngie?" aku hanya tertawa mengamini. "Ada ceramah ramadhan di kampus, bulik. Aaamin doanya"

Mungkin ini cara Allah menggerakkan hatiku. Dengan menaruh aku di kampus Islam, perlahan ada saja cara dariNYA untuk datang mendekat. "Kok sudah dua orang yang berkata "umroh" sesorean ini?"

Sampai akhirnya di bulan April setelah aku sibuk mengawas UTS, aku bermimpi dalam tidurku.

Aku bermimpi berjalan di koridor GKB 1 kampusku. Perlu diingat bahwa GKB 1 adalah bangunan yang paling awal dibangun pada saat kampus ini pertama kali membuka kampus 3 di kelurahan ini. Sehingga suasana jadul masih terasa -- dan yeah, kadang aku sedikit ketakutan lewat di gedung ini malam hari. Di mimpiku itu aku berjalan menyusuri GKB 1 lantai 3. Sedikit gambaran, parkiran dosen di samping GKB 1 itu berdekatan dengan pintu masuk di lantai 3. Lantai 1 dan 2 itu berada lebih rendah dari parkiran dosen. Itulah pintu yang selalu kuakses kalo aku ada kelas di GKB 1. Nah, aku berjalan di situ, berjalan di tengah rombongan orang-orang yang beramai-ramai untuk keluar dari pintu yang mengarah ke parkiran dosen. Aku berjalan melawan arah sambil merasa takut - seperti yang kurasakan di dunia nyata, terus berjalan sampai aku mendengar suara tangis. Aku keheranan. Lalu menoleh ke kanan kiri, menghadap belakang dan tidak menemukan siapa yang menangis. Lalu aku kembali menoleh ke depan dan mendapati dosen kesayanganku menangis kencang. Sebagai mahasiswa yang teramat mencintainya, aku memeluk beliau dan bertanya ada apa.

Gongnya terjadi sesaat kemudian. Aku menoleh ke belakang dan mendapati aku sedang berada di antara Bukit Shofa dan Marwah. Orang-orang berlarian pakai baju ihrom. Aku kaget.

"Lhoh, aku umroh?"

dan aku melihat ke belakang, dosenku sudah tidak di situ. Aku termenung, lalu bangun dari tidur.

Sejak saat itu, aku menyikapi umroh dengan berbeda. Terlebih setelah aku melihat semakin banyak kawanku yang berangkat ke sana. Sampai suatu hari, ada kakak kelas yang mengontakku.

"Angie, kamu masih meronce nggak? Lagi open PO nggak?"

"Aku open PO roncean setiap saat mbak, mau gelang apa phone strap?"

"Tasbih ya Ngie, pesen isi 33 sama isi 7"

"oke mbak"

Tasbih isi 33 emang normal sih, aku juga punya itu. Tapi tasbih isi 7 buat apaa?

Akhirnya aku googling, dan mendapati bahwa tasbih isi 7 itu adalah untuk menghitung jumlah putaran thawaf. Aku tercekat dan mengontak kakak kelasku itu.

"Mbak, sampean kate umroh ta? kapan?"

"Tanggal 26 Ngie, dungakne yo"

"Ya Allah mbaak, titip dungakno aku ndek kono"

Setahun yang lalu aku menyaksikan gelang ronceanku berada di venue konser Taylor Swift di Polandia, karena temanku yang tinggal disana mendapat rezeki untuk bisa menonton konsernya. Ia memesan sejumlah banyak gelang Taylor Swift kepadaku. Mungkin juga gelang tersebut dipakai untuk saling bertukar dengan fans yang lain. Ah, gimana rasanya gelang buatanku dipakai swiftie luar negeri? Meski aku belum berani menyebut diriku swiftie karena baru mengikuti Taylor Swift setahun belakangan, tapi entah mengapa bangga sekali gelang Taylor Swiftku bisa dibawa sejauh itu.

Namun kini hasil ronceanku berada di Baitullah. Tempat impian para muslim sedunia. Baru kali ini aku merasakan keinginan yang sangat kuat untuk berada di sana, sambil menggandeng tangan dosen kesayanganku.

Ah, mungkinkah?

Setahun yang lalu, aku pergi ke Bandung untuk mengikuti konferensi. Aku memilih kereta yang berangkat ba'da subuh. Tak kusangka, beberapa hari sebelum aku berangkat, aku mendapati bahwa aku akan serombongan dengan dosen-dosenku - termasuk dosen kesayanganku yang satu ini. Tak tanggung-tanggung, dosenku yang menjabat presiden dari asosiasi yang menyelenggarakan konferensi ini juga ada di kereta itu dan hanya terpisah satu gerbong denganku. Bahkan professor terhormat yang pernah jadi kaprodi saat aku S2, duduknya persis di belakangku, dan di belakangnya lagi ada kakak tingkatku yang merupakan kolega beda unit di kampusku.

Mungkin hoki seumur hidupku udah kepake di situ. Allah mengatur aku agar satu kereta sama dosen-dosenku tanpa aku sengaja, tanpa aku bertanya-tanya sama dosenku mau ambil kereta jam berapa.

Kalau Allah membarengkan aku dengan dosen kesayanganku ke Bandung tahun lalu, apakah suatu hari nanti aku akan dibarengkan ke Baitullah bersamanya?

Dan kalimat itulah yang kutulis dalam surat yang kupersembahkan untuk beliau di hari ulang tahunnya tahun ini.

Aku tidak tahu mengapa, tapi aku belum pernah se merinding ini melihat biaya umroh. Dengan gajiku yang tidak sampai UMR ini, bahkan aku masih mencari penghasilan tambahan dari kos-kosan dan memberi les privat, aku makin bertanya-tanya apakah aku bisa mencapai angka segitu.

Aku tidak tahu butuh berapa bulan menabung untuk bisa beli paket termurah. Aku bahkan belum berani menaruh umroh sebagai daftar tabungan karena aku masih harus memperbaiki kos-kosan di rumahku, dan ada keperluan lain yang segera dibutuhkan.

Mereka bilang, kalkulator Allah bekerja berbeda dengan perhitungan manusia, dan itu tidak bisa dinalar. Aku hanya bisa pasrah, dan kalau memang panggilanNya telah datang, semoga dimudahkan.

Ya Allah, can I go with her? And with the whole department, perhaps?