Tes MBTI ini asyik loh. bisa kamu ambil disini:
https://mbti.anthonykusuma.com/
ato disini https://www.16personalities.com/free-personality-test
masih banyak situs yang lain sih, yaaa cari yang gratis aja lah ya :D
Tes MBTI sekarang lagi booming dan aku udah ambil beberapa kali dan hasilnya selalu sama:
ENFP.
Extroversion, Intuition, Feeling, Perception. Bisa dibaca disini hasil lengkapnya.
Ya, ada banyak point disitu yang memang menggambarkan aku. Tapi ada beberapa poin yang nggak aku banget. Ya emang sih, ga semua ENFP itu sama. Lebih luas lagi, ga semua extrovert itu sama.
Dan yang membuatku tambah tepok jidat adalah.... extroversion dan introversion itu nggak bisa dilihat dari kenyablakan dan kecerewetan.
Dua beauty vlogger yang cukup rajin aku tonton, Tasya Farasya dan Suhay Salim, surprisingly mereka Introvert. Padahal kurang nyocot apa cobak? Dan temanku Septem, Mbak Astri, Riza, Mbak Rahma, dan Sukilel, mereka introvert. Padahal mereka rame banget nget nget. Seriusan....
Aku belum tahu sih adakah extrovert yang pendiam dan menyendiri? Padahal extrovert dikenal bisa membuka pembicaraan dan bisa bekerja ditengah keramaian. Well, let's reflect on myself. Kalo aku lagi belanja barang printhilan sehari hari, aku selalu melakukannya sendirian. Iyes, ngubengin minimarket sendiri. Beli lipstik sendiri. Ya tujuannya biar aku fokus. Biar gak kegoda beli yang laen kalo liat temen beli barang unyuk. Ketika aku beli nasgor buat makan siang pun aku suka sendirian. BIAR CEPET.
Ah masak sih kebiasaan orang introvert itu ada di seorang Angie yang extrovert?
Mungkin aku emang butuh mengenal diri sendiri lebih dalam lewat tes yg lebih rumit dan butuh kelapangan dada tingkat tinggi saat melihat aku ini kayak gimana. Udah extrovert, sanguine, otak kanan pula. Man. Semua udah tau aku paling cerewet di kelas dan suka ngobrol ngalur ngidul dengan volume ekstra!
Dan sederetan update status yang membuat temen2 ngelus dada. Belum lagi, di instagram aku suka nyepam foto kampus UQ. sekali nyepam bisa 12 foto dan captionnya seolah-olah menggambarkan aku sedang ada disitu. Ada foto food court di UQ, aku bilang "Hmmm antri makanan lama banget". Well, halu banget emang. HALU.
Memang yang risih itu ada. Pasti banyak. Cuma mereka nggak nongol didepanku aja. Temenku bilang, "Nji, you are visualizing your dream really well. No need to feel sorry about that"
Iya, this is a part of my extroversion.
Aku seneng sih nyepam foto UQ di IG, karena semakin banyak yang doakan, semakin aku semangat berjuang biar bisa kuliah di UQ. Memang begitulah naturenya orang extrovert. Ada temen yang bilang, "Nji, kamu punya mimpi jangan diumbar-umbar. Nanti kalo gagal, kamu jatuh dan malu diketawain orang-orang. Simpen dalam hati nji. Cukup Allah sama kamu yang tahu."
AKU GAK BISA, AKU EXTROVERT. AKU NGUPIL AJA APDET STATUS, MEN.
Kalo kamu nyuruh aku kalem seperti princess di pesta dansa, itu artinya kamu ngajak aku gelut.
Saking ae aku jilbaban dadi gak wani ngomong j*****k.
Itu, itu yang nyuruh aku nyimpen mimpiku sendiri itu, orang introvert. Sepurane mbak, aku ga iso :)
Mungkin hanya di aku saja extroversion ini berlaku menjadi sebentuk kepribadian yang bikin wegah. Karena aku gak bisa kalem, semua hal aku ekspos, jadi ga ada misterius2nya. Aku pernah dibilangin, hal yang membuat cowok jatuh cinta pada cewek adalah MISTERIUS nya. Susah ditebaknya. Aku entah kenapa nggak bisa tuh ya jadi misterius. Mungkin itu juga yang bikin aku sampe hampir kepala 3 gini belum pernah ditembak cowok.
Aku kalo ga suka, ya ngomong. Kalo pengen apa, ngomong. Kalo ngerasa apa, ngomong.....
.
.
.
.
.
.
.
..
.
.
.........tapi ngomongnya di status, kadang pake bahasa kiasan pula. pernah juga nyinggung perasaannya bu kepsek pas aku masih kerja di SD dulu. Tapi kan posisinya pas itu ngga ada yang bisa disalahkan karena emang aku nggak cocok jadi guru SD, ya udah mau diapain lagi.
Aku selalu sebel ngeliat para temenku yang pada akhirnya menemukan pasangannya masing-masing karena mereka berhasil menuruti kriteria "misterius" itu. dan kemisteriusan itu adalah karena INTROVERSION mereka.
Mereka yang introvert, cenderung diam sehingga bisa menjaga perasaan orang. Aku, nyablak.
Mereka yang introvert, cenderung menyimpan dalam2 semua impiannya untuk menghindari diisin-isini lek gagal. Aku, logo UQ udah nempel di jidat, sala jidatku segede airport.
Mereka yang introvert, cenderung misterius sehingga gampang dapat cowok. Aku, onok uban tumbuh ae tak apdet status.
Mereka yang introvert, cenderung mikir dulu sebelum bertindak dan ngomong, dan aku langsung action, langsung ngomong, parahnya seringkali nggak mikir. Lebih tepatnya, sering kelepasan.
There are a lot of extroverts out there who do with thinking, Sadly, I don't.
Mereka yang introvert, cenderung hati-hati memilih teman curhat. Aku, sering kelepasan curcol hingga dirasani wong. Man, I hate being hated.
Walau aku gak memungkiri beberapa kali aku mendengar temanku bilang, "Nji, keep on being yourself! aku salut sama kamu yang begitu strict menjadi dirimu sendiri!" iyes, I heard that many times... tapi itu pas tahun 2011! Pas aku lagi konflik sama temen2 akhwat aktivis dakwah yang gak suka melihat aku aktif berorganisasi di ormawa dan memilih berpakaian ala mbak2 hijabers.
Sekarang kan konflik itu udah berlalu. Aku sudah menutup komunikasiku dengan akhwat-akhwat itu, urusanku sama mereka udah selese, dan aku sudah nyaman dengan kehidupanku yang sekarang. Yeah I'm really proud of being me.
Walau aku tahu, menjadi seorang ENFP, sanguine, melancholic, dan right-brained pada satu ego yang sama itu beresiko. Ada sekian banyak warning yang dinasihatkan untukku. Cuma, ya itu. My extroversion often goes beyond control.
Sebenarnya, setiap kali aku kecentok sebuah masalah, aku ga bisa dong serta merta mengkambinghitamkan extroversionku. Aku ingin menjadikan extroversion itu sebagai nilai plus. bukan batu sandungan dan kambing hitam.
Sebagai muslim aku tentunya sudah pernah dengar kata-kata ini:
Tapi aku nggak mau dong di-judge tanpa ada evidence yang benar, bisa-bisa jadi ada fitnah nyebar dan omongan-omongan negatif yang bakal menghalangi langkahku kedepannya. Klarifikasi tetep diperlukan. Man, aku belum lulus, masih mau lamar-lamar kerja, kalo calon bos udah denger hal-hal negatif tentang aku dari orang lain gimana?
Therefore I write this. I just want to state that Extroversion shapes me this way. Aku bangga jadi extrovert! Extroverts has some aspects that make them excel.
Aku nggak mau bilang orang sanguine dan extrovert itu buruk, nggak. Aku hanya perlu mengarahkan sanguine dan extrovert ini agar membawa aku lebih sukses kedepannya. Tanpa menghilangkan kebiasaanku nyepam UQ di IG, nyetatus absurd, dan ngaplot IG story gak jelas.
Perlu dihighlight juga bahwa aku tidak berusaha menjadi sempurna ya. Aku benci kesempurnaan. Karenanya kalo aku ngoreksi kerjaannya murid, kalo ada yang dapet nilai 100, aku nulisnya "EXCELLENT" bukan "PERFECT". Ya emang aku dari kecil banget, dari SD, sudah benci orang perfeksionis. I've been exposed to perfectionism since I was very young, what's worse, on a daily basis. Pada akhirnya kesempurnaan itu membuat kita capek dan stress sendiri. Itulah mengapa aku sekarang udah gak bergeming ngeliat betapa indahnya akun2 IG rumah shabby chic dan bullet journal. Udah gak terobsesi menirunya. Walau gak munafik aku menikmati kerapiannya.
Aku ingin tetap menjadi aku. Menjadi lebih baik tanpa meninggalkan warna yang aku punya. Dan belajar itu selamanya. Aku ingin tetap jadi extrovert, ceria, dan menyebarkan aura semangat, tapi nggak annoying. However, the road is long.




No comments:
Post a Comment