Thursday, January 19, 2017

Ketua Kelas Menclek yang Menjalankan Amanahnya

Heyho. Yes, you read the title right. Ketua kelas menclek.
Disclaimer, aku sama sekali nggak membangga-banggakan amanah sebagai ketua kelas. Kerennya apa sih, yang ada berat tauk.

Sepanjang aku SD sampe SMA, aku nggak begitu banyak jadi pengurus kelas. Cuma pas SMA kelas XI jadi sekretaris. Baru pas kuliah S1, aku ngerasain jadi ketua kelas di beberapa matakuliah. Biasanya di kelas yang diampu Oneesanku ato Prof. FB1. Nah, kenapa kok aku yang didapuk jadi ketua kelas? Karena seangkatan udah tahu kalo aku memfavoritkan Oneesanku dan semangat ngerayain ultah kita yang cuma beda sehari; sedangkan untuk pak Prof. FB1, aku adalah orang yang (pada saat itu) rajin komentar di statusnya. Anggepan e aku wes cedhek, yowes aku ae sing didadekno ketua.

Well, hanya dengan modal dekat sama dosennya, lalu diamanahi jadi ketua kelas. Memang sih kedekatan dengan dosen somehow membawa benefit, tapi itu nggak segampang yang pada awalnya kupikirkan.

Tahun 2011, aku kuliah semester 4. Saat itu Oneesanku sedang hamil besar. Perkuliahan dipadatkan agar pada saat nanti beliau cuti melahirkan sudah nggak ada utang kuliah. Kadang jadwal kuliahnya diganti ato ruangannya diganti, karena aku nggak tega liat Oneesanku perutnya udah segede itu harus naik ke lantai tiga. Belum lagi pas ngumpulin tugas akhir, jaman dulu belum ada WA, jadi harus broadcast satu satu moreover ada kakak kelas yg retake di kelas kita. Terus ngumpulin tugas akhir ke rumahnya karena beliau masih cuti melahirkan pas itu dan eikeh sekalian ngeliat dedek bayinya yang unch unch mau dooong eikeh bawa pulang daaaaan baru sadar kalo ada temen yang kancrit! nah! Ada aja batu sandungan jadi ketua kelas.

Semester berikutnya aku ambil lagi kelas yang diajar oleh Oneesanku (ye, dasar enji penggemarnya oneesan). Dan matakuliah tersebut diakhiri sebuah gathering dengan anak anak kelas lain plus nampilin berbagai kesenian lintas budaya termasuk aku perform tap dance tapi jelek dan payah, dan sajian  makanan lintas negara. Emaaaaak, nyepahamkan dua kelas itu susah bok. masalah duit urunan yang mau dibelikan apa, ruangannya dimana, terus siapa aja yg mau perform..... dan aku bikin kesalahan cukup besar saat itu.

Man, aku dulu seakan terobsesi untuk mengurusi semuanya sendiri. Aku usung usung tupperware segede perutnya oneesanku pas hamil buat wadahnya salad, beliin mayones seperempat kilo di toko deket rumah dan dengan pedenya ngerasa mayones itu udah yang paling murah, eeeh ternyata ada temen yang dapet harga jauh lebih murah. Aku juga sok bingung mikirin sajian padahal temenku punya kenalan yang bisa belikan dengan harga murah. Sok ngatur tempat di lantai tiga di gedung apa eh ndilalah dosen kelas sebelah udah bookingkan di gedung mana. Man, jadi ketua kelas itu nggak gampang. Dan aku kena semprot Oneesanku. Gimana gak ngejleb dimarahin orang yang kamu sayang.

Dari situ aku belajar bahwa jadi ketua kelas itu BUKAN NGEHANDLE SEMUA SENDIRIAN. tapi jadi ketua kelas itu harus tahu mendelegasikan pekerjaan. Man, telat banget aku baru tahu itu semua pas semesternya udah agak tua. Dan semua omelan oneesanku itu aku pegang sampe sekarang.

Bertahun tahun kemudian, setelah negara api menyerang, sampailah aku di titik ini.
Jadi mahasiswa pascasarjana di tempat yang sama. Entah gimana ceritanya aku kembali menjadi ketua kelas sejak bertahun-tahun tamat dari kelasnya FB1 dan Oneesanku.
Entah gimana ceritanya mereka yang baru sehari mengenalku itu langsung menunjukku menjadi ketua kelas. Padahal aku belum menceritakan latar belakangku pada mereka.

Man, jadi ketua kelas itu harus bolak balik ke kaprodi. Untuuung kaprodiku ini dosbing skripsiku dulu. Dosen enak kesukaanku.
Tapi tetep aja aku harus berhasil menjalankan peranku dengan baik dan profesional, gak sak enak e dewe mentang mentang orangnya enak dan sudah kenal baik sama aku. No. aku harus tetep menjembatani mahasiswa yang punya masalah dan mengabarkan segala informasi dari prodi.
Mulai dari nyari kelas pengganti.
sampe yang lebih advanced, konflik-konflik yang terjadi antar mahasiswa.
kesalah pahaman.
nuruti ego para mahasiswa sing ndue idealisme dewe dewe.
nuruti kepentingane dewe dewe.
salah pengertian,
ketinggalan info,
kancrit teko daftar,
and many more.

iyes, they also happen to graduate students yang umurnya udah diatas 22 tahun.
dan sering kali aku ngerasa gagal njembatani untuk beberapa kasus yang terjadi di kelasku.
berusaha cari jalan tengah yang bisa diterima semuanya.
and I applaud my kaprodi yang selalu ngasih solusi tegas :)
Alhamdulillah.....

Tapi aku berpegang dalam satu hal, bahwa untuk beberapa hal aku nggak boleh mutusin semuanya sendirian. Selalu aku minta pertimbangan sebelum melaporkan sesuatu ke dosen. Aku tahu aku orangnya egois dan aku berniat meredam habis semua keegoisan itu. Aku harus belajar lebih humble dan nggak kemakan obsesi. Yes, I really learned from my Oneesan's fuss, dan masih banyak lagi yang harus aku pelajari.

Man, jadi ketua kelas bukanlah hal yang aku bangga banggain. Kalo dulu aku bangga jadi ketua kelas karena aku mengartikan sebagai aku punya akses lebih ke dosen kesayanganku, Oneesan. Tapi ternyata nggak semua interaksiku pada Oneesan berkenan di hati beliau.
Dan  sekarang kondisinya beda. Aku jadi ketua kelas di semua matakuliah dan it means semua dosen dengan mudah mengingatku. Either dosen baik atau dosen yang strict.

Well aku berusaha membangun image yang baik ketika mereka mengingat ketua kelas C. Angie, ketua kelas paling menclek. Otaknya menclek 200 derajat ke tenggara, nyangsang di genteng sebuah kampus yang udah berusia 108 tahun dimana Oneesannya dulu meraih gelar masternya.

Dari sosok seorang Angie jugalah dosen bisa mengingat kelas C. Kelas yang menamakan dirinya Kelas C-inta. Kelas paling diverse di angkatan 2016 dengan rentang usia yang sangat beragam dibanding kelas yang lain. Kelas yang niat banget bikin perayaan waktu kaprodiku menikah. It is an honor to be their coordinator. Dan menurutku, aku sebagai ketua kelas bukanlah sebagai pengatur mereka yang seenaknya nyuruh mereka begini begitu, tapi aku lebih memposisikan diri sebagai penjembatan antara kaprodi, para dosen, pihak TU sama teman-teman. Keputusan kita ambil bersama.

all in all aku bangga sama kita semua!
aku berusaha mempersembahkan yang terbaik, I know I can't please everyone and that's okay. Maka dari itu aku juga butuh temen-temen kelas C semua untuk menciptakan kondisi yang terbaik :)