Hi, blog. Sudah penuh sarang laba-laba. Tempat yang sempat menjadi curahan masa alay dari jaman aku masih berumur 18 tahun, menjadi freshmen di jurusan Pendidikan Tata Boga, kemudian mengulang SBM-PTN dan diterima di Sastra Inggris, hingga roller-coaster kehidupan di sasing dengan legato-legatoannya. Dilanjut perasaan shock dan nggak terima ketika setelah lulus harus kerja di tempat yang terlihat indah di luar namun menusuk di dalam, terbersit keinginan untuk lanjut S2 di luar negeri di tempat yang telah melahirkan Onee-chan ku. Dan akhirnya tempat terbaik adalah pulang. Pulang ke rumah yang membesarkanku, Sasing UM. Dan segala drama tesis yang membuatku harus lulus molor.
Setelah ujian tesis di tanggal 12-12-2019 (Iyes aku selalu milih tanggal cantik gaes, dulu sidang skripsi aja milih tanggal 23-10-2013), urusan yudisium yang belibet mengakibatkan aku baru bisa nerima SKL bulan februari. Yaay, udah bisa ngelamar kerja. Tapi, Qodarullah, maret 2020, bumiku sakit sampe detik ini dan mengakibatkan hiring freeze dimana-mana. Semua sekolah diadakan online dan jarang sekali ada lowongan guru baru. Aku kesepian dengan lockdown itu, tapi, there's always a silver lining in every cloud. Webinar-webinar yang kuikuti, menuntaskan kerinduanku pada Sasing UM. Juga, membuat aku terkoneksi dengan The University of Queensland, dan berhasil memenangkan kuis berhadiah kaos dan tas UQ asli dari sononya!
Lockdown isn't that bad buat orang yang rajin ikut webinar kayak aku. Tapi semua itu berubah di awal 2021.
Pertengahan Januari 2021, aku dan ibuku sama-sama kena covid. Akhirnya diisolasi di RS Lapangan ijen dan setelah 10 hari, kami pulang dan lanjut isoman, dan setelah diswab, kami negatif pada tanggal 3 Februari 2021, yaaay. Tapi sayangnya, covid memperparah penyakit autoimun ibuku hingga akhirnya pertengahan februari kami bertiga harus mengikhlaskan ibuku mengakhiri pertarungannya.
Unexpectedly, adekku yang selama ini dibantu ceweknya mengurusi pemakaman, ngurus akta kematian, dan melayani para pentakziah, akhirnya dilungguhno sama ortu ceweknya dan.....
iyes. 40 hari setelah kepergian ibuku, adekku ngelangkahin aku gaes.
Hayo kurang pathetic apa aku ini? Umur kepala 3, udah S2, gendut, jelek, lagi mempertimbangkan untuk child-free, belom pernah ditembak cowok sama sekali, dan sekarang nambah lagi: Dilangkahin adek cowok yang beda 6 tahun. Udah cukup label "nggak laku" nya? Iya, di kepalanya orang-orang yang bermindset patriarkal.
Aku jadi ngerti bahwa patriarki itu yang selama ini menstigmakan wanita single bergelar S2 dan berusia kepala 3. Menganggap mereka nggak laku. Kadaluwarsa, kematengan, bikin cowok minder and so forth. I constantly spoke up about it on my IG sampe disenggrang sama temen yang udah "hijrah". Wow, ini ya yang namanya pohon makin tinggi anginnya makin kenceng.
Aku belom berani melabeli diriku feminis walau nggak dapat dipungkiri pemikiran feminisme itu sangat menyelamatkan aku untuk bangkit dan berani speak up atas apa yang aku alami selama ini. Perubahan yang aku impikan itu akhirnya terjadi pada diriku. A braver Angie.
Setelah pernikahan adekku, kadang-kadang adekku tinggal dirumah istrinya dan aku kesepian luar biasa. Walau jujur, hubungan aku sama ibu sangat tidak baik dan sampe sekarang mother wound aku masih belom sembuh, hidup berdua sama bapak doang itu krik-krik banget. Apalagi bapak udah lansia dan ada komorbid, dan aku sering cemas luar biasa bahkan kalo bapakku masuk angin aja. Udah konsul ke psikolog sih, tapi masih kurang membantu.
Dan itu masih berlangsung sampe detik ini.
Entah sudah berapa puluh surat lamaran kerja aku sebar ke kampus-kampus. Udah kayak orang gila aja aku waktu awal-awal adekku ngurus pernikahannya dan ga pernah ada dirumah, dan rumah jadi sepi. Betapa aku rindu kampusku yang sayangnya harus lockdown karena pandemi. ESAC, rumah keduaku sekaligus "kamar operasi caesar" saat aku melahirkan kedua anak akademisku, harus dibongkar karena kami akan mendapat ESAC baru di gedung baru yang menjulang. Aku tidak bisa mampir kesana hanya untuk menyapa bapak penjaganya sambil berbagi jajan. Tak ada lagi menyelinap diantara adek-adek kelas yang mengerjakan tugasnya. Tak ada lagi membagi sekaleng popcorn dan sebaskom besar es kopyor untuk dosen-dosen yang sedang panas karena banyak deadline. Buat aku, dosen-dosen itu sudah menjadi ibu kedua sekaligus kakak buatku, apalagi di masa-masa S2.
Aku sampe nangis-nangis ke kakak kelasku,
"Mbak, aku itu iri sama si Derp, Derpina, Me Gusta, Troll Face, sama Forever Alone yang dipekerjakan jadi site assistant di kampus. Mereka sering bantuin dosen-dosen mbak, bantu angkat-angkat, bantu motret-motret pas mereka rapat, bantu beliin ini itu, jadi panitia di semua guest lecture, jadi panitia conference, kalo pas dosen-dosen rapat di hotel mereka ikut, bahkan dosen mantu mereka jadi penerima tamu. How I wish I could be like them, mbak. Aku kecapekan dibayar kecil gapapa asal bisa ngerasain posisi itu. Mereka bertemu keluarga keduaku tiap hari. Aku nyaman mbak sama dosen-dosen kita. Teman-temen sekelasku juga, mereka ngasih aku cinta yang aku ga bisa dapat di rumah. Aku udah nyaman banget di kampus. Kenapa ESAC harus dibongkar mbak? Kenapa kampus jadi kayak Chernobyl gini?"
Mungkin karena kelewat kesepian, aku jadi mikir begitu. Mungkin itu pikiran sesaat karena emosi. Tapi sapa yang gak mau sih bekerja bersama keluarga kedua yang kau sebut rumah. Aku ingin kembali ke rumah itu, tapi tidak sebagai mahasiswa doktoral. Aku udah terlalu tahu kayak gimana alurnya, secara aku sering dipekerjakan oleh anak-anak S3 dan duitnya cukup lah buat beli kopi pandan extra shot di Janjiw. Jadi, kalo ada yang nanya, "Angie gak pengen lanjut doktor?" well sementara aku lebih suka mengais uang dari membantu para calon doktor muehehehehe :v kan sambil menyelam minum air. Jadi sekalian tau disertasi yang bagus itu gimana.
Long story short, aku dapet kerjaan part time jadi guru SD. Lagi. Iya, kali ini di SD Negeri. Sebenarnya udah terbukti jelas, I messed up my career as an English Teacher in my previous school. Aku gak cocok ngajar SD, tapi jelas-jelas ada yang butuh, yaudah ambil aja ini rezeki kenapa gak. Di saat yang bersamaan, aku membuat keputusan besar yang belom pernah kulakukan sebelumnya:
mendaftar CPNS.
Nji. Are you insane? Kamu?
Angie yang slengekan pating gradak, ceroboh, ngantukan, pelupa, males, procrastinating, ga nyambungan, dan mencleknya fenomenal.... memutuskan untuk menempuh karir di atas rel yang lurus kenceng dan teratur?
Nji? Are you sure?
Selama ini aku terkenal dengan suka menempuh cara yang gokil dan antimainstream. Contohnya, nyusup ke Asiatefl dan nggak mbayar (ini jangan ditiru), nyusup di acaranya LPDP sampe dikira awardee, nyusup di sosialisasi beasiswa buat dosen kampus sebelah, nekat ikut anysong challenge yang diadain UQ, nekat ngajuin diri jadi volunteer di programnya UQ (dan aku udah 3 semester ikut acara ini looooh.....), dan juga nyusup di UQ Linguistics Society dan ikutan conferencenya mereka. Sampe dosenku yang lulusan UQ ngelus dada liat kelakuanku. Emang, aku bangga menjadi antimainstream. Dan dengan keslengekanku ini akan dibawa ke roda yang berputar cepat, di atas rel yang lurus teratur, nggak belok-belok ke gang sebelah buat nyari warung.
Nji? Is it really your choice?
Kamu ikut CPNS bukan cuma buat rame-ramean kan? bukan cuma karena lagi ngehype kan?
Aku sadar, sesadar-sadarnya, bahwa mindset "Menantu ideal adalah PNS" is sooooooooooooo last year. Tapi kenapa aku milih karir ini? Karena dosen PNS itu platformnya sangat jelas. Aku pengen bikin research seru-seru? Kasih dah.... Pengen ikut workshop ato conference di luar kota? Kasih dah.... Pengen ngejar beasiswa ke luar negeri? Kasih daaaah........ Pengen short course di luar? Kasih daaah....
And I got to teach my favorite subjects. Aku pengen nanti pas ngajar argumentative writing, ngasi topik kontroversial yang mengusik batin. Kayak fenomena hijrah, lirik lagu vulgar, gonjang ganjing sekolah daring, dan banyak lagi. Aku pengen nanti pas ngajar gender and language, nyuruh mahasiswaku nganalisis guyonan seksis di instagram. Aku pengen nanti pas ngajar translation, nyuruh mahasiswaku nerjemahin paper akuntansi yang bahasanya puitis (Eh ini beneran ada loh! aku pernah dapet orderan gitu!). Pas matakuliah sociolinguistics, aku pengen ngajak mahasiswaku meneliti berbagai dialek. Pas kelas syntax, tak suruh bikin tree diagram dari judul-judul sinetron indosiar muehehehehehehehe :v
Aku inget masa-masa aku jadi guru SD dulu, aku pengen ikut conference kebahasaan di luar kota, leren sindir-sindiran dan sinis-sinisan sama kepsek. Yaiyalah lingkungan SD, nggak se-scholar perguruan tinggi. Aku berjuang untuk S2, didramain kepsek, dan dipersulit surat rekomendasi dan ijin tes TOEFLnya. Ya, semoga di dunia perguruan tinggi nantinya aku nggak dapet lingkungan yang toxic dan julid.
Gosh, uripku gabut tenan. Saat virus corona makin mengganas dan bisa menular lewat udara. Lockdown kedua ini bener2 melarang aku keluar rumah. Bahkan aku ga boleh deket2an sama bapakku, nyapu ruang tengah aja maskeran. Aku bener2 harus stay di kamar terus. begitu juga bapak. Dan adekku, kok ya ceritanya pas nginep di rumah istri, lah kok serumah positif semua. Hampir semua masuk rumah sakit dan bahkan mereka harus mengikhlaskan asisten rumah tangga mereka kembali ke hadiratNya. Dan adekku akan tinggal di rumah istrinya dalam waktu yang cukup lama.
Sepi tenan.
Ndondolicaaaa, cepet pulaaang! Sana gitaran di ruang tivi sana!
aku kesepian.
tapi aku juga butuh konsentrasi buat belajar CPNS. 😜
Ngeliat soal-soal latihannya aku ciut, tapi kalo ngebayangin kalo udah dapet jobnya terus pagi-pagi berangkat ngampus terus nyampe kelas, itu kok bikin nyess ya.... ya walaupun formasi yang kudaftar bukan rumah keduaku sih, tapi masih bisa laaaah collabs ama mereka nantinya 😘😘😘.
I know this path is too mainstream. But I want to do something. I know what I'm doing with my life.
soooo... now, tidy up my desk, set the lighting, put on jacket, pour some coffee, and play lo-fi study music, aaaand start studying for CPNS test!! yahaaaa.
No comments:
Post a Comment