Monday, September 25, 2017

Saya extrovert, dan saya iri sama yang introvert.

Entah kenapa aku belakangan ini suka ngamatin temen temenku yang terdeteksi kepribadiannya setelah ambil tes MBTI. Dan update statusku di IG ato FB rata2 ngomongin soal extroversion ku yang kadang diluar kontrol.
Tes MBTI ini asyik loh.  bisa kamu ambil disini:

https://mbti.anthonykusuma.com/
ato disini https://www.16personalities.com/free-personality-test

masih banyak situs yang lain sih, yaaa cari yang gratis aja lah ya :D
Tes MBTI sekarang lagi booming dan aku udah ambil beberapa kali dan hasilnya selalu sama:
ENFP.

Extroversion, Intuition, Feeling, Perception. Bisa dibaca disini hasil lengkapnya.



Ya, ada banyak point disitu yang memang menggambarkan aku. Tapi ada beberapa poin yang nggak aku banget. Ya emang sih, ga semua ENFP itu sama. Lebih luas lagi, ga semua extrovert itu sama.

Dan yang membuatku tambah tepok jidat adalah.... extroversion dan introversion itu nggak bisa dilihat dari kenyablakan dan kecerewetan.

Dua beauty vlogger yang cukup rajin aku tonton, Tasya Farasya dan Suhay Salim, surprisingly mereka Introvert. Padahal kurang nyocot apa cobak? Dan temanku Septem, Mbak Astri, Riza, Mbak Rahma, dan Sukilel, mereka introvert. Padahal mereka rame banget nget nget. Seriusan....

Aku belum tahu sih adakah extrovert yang pendiam dan menyendiri? Padahal extrovert dikenal bisa membuka pembicaraan dan bisa bekerja ditengah keramaian. Well, let's reflect on myself. Kalo aku lagi belanja barang printhilan sehari hari, aku selalu melakukannya sendirian. Iyes, ngubengin minimarket sendiri. Beli lipstik sendiri. Ya tujuannya biar aku fokus. Biar gak kegoda beli yang laen kalo liat temen beli barang unyuk. Ketika aku beli nasgor buat makan siang pun aku suka sendirian. BIAR CEPET.
Ah masak sih kebiasaan orang introvert itu ada di seorang Angie yang extrovert?

Mungkin aku emang butuh mengenal diri sendiri lebih dalam lewat tes yg lebih rumit dan butuh kelapangan dada tingkat tinggi saat melihat aku ini kayak gimana. Udah extrovert, sanguine, otak kanan pula. Man. Semua udah tau aku paling cerewet di kelas dan suka ngobrol ngalur ngidul dengan volume ekstra!



Dan sederetan update status yang membuat temen2 ngelus dada. Belum lagi, di instagram aku suka nyepam foto kampus UQ. sekali nyepam bisa 12 foto dan captionnya seolah-olah menggambarkan aku sedang ada disitu. Ada foto food court di UQ, aku bilang "Hmmm antri makanan lama banget". Well, halu banget emang. HALU.


Memang yang risih itu ada. Pasti banyak. Cuma mereka nggak nongol didepanku aja. Temenku bilang, "Nji, you are visualizing your dream really well. No need to feel sorry about that"
Iya, this is a part of my extroversion.

Aku seneng sih nyepam foto UQ di IG, karena semakin banyak yang doakan, semakin aku semangat berjuang biar bisa kuliah di UQ. Memang begitulah naturenya orang extrovert. Ada temen yang bilang, "Nji, kamu punya mimpi jangan diumbar-umbar. Nanti kalo gagal, kamu jatuh dan malu diketawain orang-orang. Simpen dalam hati nji. Cukup Allah sama kamu yang tahu."

AKU GAK BISA, AKU EXTROVERT. AKU NGUPIL AJA APDET STATUS, MEN.

Kalo kamu nyuruh aku kalem seperti princess di pesta dansa, itu artinya kamu ngajak aku gelut.
Saking ae aku jilbaban dadi gak wani ngomong j*****k.
Itu, itu yang nyuruh aku nyimpen mimpiku sendiri itu, orang introvert. Sepurane mbak, aku ga iso :)

Mungkin hanya di aku saja extroversion ini berlaku menjadi sebentuk kepribadian yang bikin wegah. Karena aku gak bisa kalem, semua hal aku ekspos, jadi ga ada misterius2nya. Aku pernah dibilangin, hal yang membuat cowok jatuh cinta pada cewek adalah MISTERIUS nya. Susah ditebaknya. Aku entah kenapa nggak bisa tuh ya jadi misterius. Mungkin itu juga yang bikin aku sampe hampir kepala 3 gini belum pernah ditembak cowok.

Aku kalo ga suka, ya ngomong. Kalo pengen apa, ngomong. Kalo ngerasa apa, ngomong.....
.
.
.
.
.
.
.
..
.
.

.........tapi ngomongnya di status, kadang pake bahasa kiasan pula. pernah juga nyinggung perasaannya bu kepsek pas aku masih kerja di SD dulu. Tapi kan posisinya pas itu ngga ada yang bisa disalahkan karena emang aku nggak cocok jadi guru SD, ya udah mau diapain lagi.

Aku selalu sebel ngeliat para temenku yang pada akhirnya menemukan pasangannya masing-masing karena mereka berhasil menuruti kriteria "misterius" itu. dan kemisteriusan itu adalah karena INTROVERSION mereka.

Mereka yang introvert, cenderung diam sehingga bisa menjaga perasaan orang. Aku, nyablak.
Mereka yang introvert, cenderung menyimpan dalam2 semua impiannya untuk menghindari diisin-isini lek gagal. Aku, logo UQ udah nempel di jidat, sala jidatku segede airport.
Mereka yang introvert, cenderung misterius sehingga gampang dapat cowok. Aku, onok uban tumbuh ae tak apdet status.
Mereka yang introvert, cenderung mikir dulu sebelum bertindak dan ngomong, dan aku langsung action, langsung ngomong, parahnya seringkali nggak mikir. Lebih tepatnya, sering kelepasan.


There are a lot of extroverts out there who do with thinking, Sadly, I don't.

Mereka yang introvert, cenderung hati-hati memilih teman curhat. Aku, sering kelepasan curcol hingga dirasani wong. Man, I hate being hated.

Walau aku gak memungkiri beberapa kali aku mendengar temanku bilang, "Nji, keep on being yourself! aku salut sama kamu yang begitu strict menjadi dirimu sendiri!" iyes, I heard that many times... tapi itu pas tahun 2011! Pas aku lagi konflik sama temen2 akhwat aktivis dakwah yang gak suka melihat aku aktif berorganisasi di ormawa dan memilih berpakaian ala mbak2 hijabers.
Sekarang kan konflik itu udah berlalu. Aku sudah menutup komunikasiku dengan akhwat-akhwat itu, urusanku sama mereka udah selese, dan aku sudah nyaman dengan kehidupanku yang sekarang. Yeah I'm really proud of being me.

Walau aku tahu, menjadi seorang ENFP, sanguine, melancholic, dan right-brained pada satu ego yang sama itu beresiko. Ada sekian banyak warning yang dinasihatkan untukku. Cuma, ya itu. My extroversion often goes beyond control. 
Sebenarnya, setiap kali aku kecentok sebuah masalah, aku ga bisa dong serta merta mengkambinghitamkan extroversionku. Aku ingin menjadikan extroversion itu sebagai nilai plus. bukan batu sandungan dan kambing hitam.

Sebagai muslim aku tentunya sudah pernah dengar kata-kata ini:




Tapi aku nggak mau dong di-judge tanpa ada evidence yang benar, bisa-bisa jadi ada fitnah nyebar dan omongan-omongan negatif yang bakal menghalangi langkahku kedepannya. Klarifikasi tetep diperlukan. Man, aku belum lulus, masih mau lamar-lamar kerja, kalo calon bos udah denger hal-hal negatif tentang aku dari orang lain gimana?
Therefore I write this. I just want to state that Extroversion shapes me this way. Aku bangga jadi extrovert! Extroverts has some aspects that make them excel.
 Aku nggak mau bilang orang sanguine dan extrovert itu buruk, nggak. Aku hanya perlu mengarahkan sanguine dan extrovert ini agar membawa aku lebih sukses kedepannya. Tanpa menghilangkan kebiasaanku nyepam UQ di IG, nyetatus absurd, dan ngaplot IG story gak jelas.

Perlu dihighlight juga bahwa aku tidak berusaha menjadi sempurna ya. Aku benci kesempurnaan. Karenanya kalo aku ngoreksi kerjaannya murid, kalo ada yang dapet nilai 100, aku nulisnya "EXCELLENT" bukan "PERFECT". Ya emang aku dari kecil banget, dari SD, sudah benci orang perfeksionis. I've been exposed to perfectionism since I was very young, what's worse, on a daily basis. Pada akhirnya kesempurnaan itu membuat kita capek dan  stress sendiri. Itulah mengapa aku sekarang udah gak bergeming ngeliat betapa indahnya akun2 IG rumah shabby chic dan bullet journal. Udah gak terobsesi menirunya. Walau gak munafik aku menikmati kerapiannya. 

Aku ingin tetap menjadi aku. Menjadi lebih baik tanpa meninggalkan warna yang aku punya. Dan belajar itu selamanya. Aku ingin tetap jadi extrovert, ceria, dan menyebarkan aura semangat, tapi nggak annoying. However, the road is long.


Thursday, January 19, 2017

Ketua Kelas Menclek yang Menjalankan Amanahnya

Heyho. Yes, you read the title right. Ketua kelas menclek.
Disclaimer, aku sama sekali nggak membangga-banggakan amanah sebagai ketua kelas. Kerennya apa sih, yang ada berat tauk.

Sepanjang aku SD sampe SMA, aku nggak begitu banyak jadi pengurus kelas. Cuma pas SMA kelas XI jadi sekretaris. Baru pas kuliah S1, aku ngerasain jadi ketua kelas di beberapa matakuliah. Biasanya di kelas yang diampu Oneesanku ato Prof. FB1. Nah, kenapa kok aku yang didapuk jadi ketua kelas? Karena seangkatan udah tahu kalo aku memfavoritkan Oneesanku dan semangat ngerayain ultah kita yang cuma beda sehari; sedangkan untuk pak Prof. FB1, aku adalah orang yang (pada saat itu) rajin komentar di statusnya. Anggepan e aku wes cedhek, yowes aku ae sing didadekno ketua.

Well, hanya dengan modal dekat sama dosennya, lalu diamanahi jadi ketua kelas. Memang sih kedekatan dengan dosen somehow membawa benefit, tapi itu nggak segampang yang pada awalnya kupikirkan.

Tahun 2011, aku kuliah semester 4. Saat itu Oneesanku sedang hamil besar. Perkuliahan dipadatkan agar pada saat nanti beliau cuti melahirkan sudah nggak ada utang kuliah. Kadang jadwal kuliahnya diganti ato ruangannya diganti, karena aku nggak tega liat Oneesanku perutnya udah segede itu harus naik ke lantai tiga. Belum lagi pas ngumpulin tugas akhir, jaman dulu belum ada WA, jadi harus broadcast satu satu moreover ada kakak kelas yg retake di kelas kita. Terus ngumpulin tugas akhir ke rumahnya karena beliau masih cuti melahirkan pas itu dan eikeh sekalian ngeliat dedek bayinya yang unch unch mau dooong eikeh bawa pulang daaaaan baru sadar kalo ada temen yang kancrit! nah! Ada aja batu sandungan jadi ketua kelas.

Semester berikutnya aku ambil lagi kelas yang diajar oleh Oneesanku (ye, dasar enji penggemarnya oneesan). Dan matakuliah tersebut diakhiri sebuah gathering dengan anak anak kelas lain plus nampilin berbagai kesenian lintas budaya termasuk aku perform tap dance tapi jelek dan payah, dan sajian  makanan lintas negara. Emaaaaak, nyepahamkan dua kelas itu susah bok. masalah duit urunan yang mau dibelikan apa, ruangannya dimana, terus siapa aja yg mau perform..... dan aku bikin kesalahan cukup besar saat itu.

Man, aku dulu seakan terobsesi untuk mengurusi semuanya sendiri. Aku usung usung tupperware segede perutnya oneesanku pas hamil buat wadahnya salad, beliin mayones seperempat kilo di toko deket rumah dan dengan pedenya ngerasa mayones itu udah yang paling murah, eeeh ternyata ada temen yang dapet harga jauh lebih murah. Aku juga sok bingung mikirin sajian padahal temenku punya kenalan yang bisa belikan dengan harga murah. Sok ngatur tempat di lantai tiga di gedung apa eh ndilalah dosen kelas sebelah udah bookingkan di gedung mana. Man, jadi ketua kelas itu nggak gampang. Dan aku kena semprot Oneesanku. Gimana gak ngejleb dimarahin orang yang kamu sayang.

Dari situ aku belajar bahwa jadi ketua kelas itu BUKAN NGEHANDLE SEMUA SENDIRIAN. tapi jadi ketua kelas itu harus tahu mendelegasikan pekerjaan. Man, telat banget aku baru tahu itu semua pas semesternya udah agak tua. Dan semua omelan oneesanku itu aku pegang sampe sekarang.

Bertahun tahun kemudian, setelah negara api menyerang, sampailah aku di titik ini.
Jadi mahasiswa pascasarjana di tempat yang sama. Entah gimana ceritanya aku kembali menjadi ketua kelas sejak bertahun-tahun tamat dari kelasnya FB1 dan Oneesanku.
Entah gimana ceritanya mereka yang baru sehari mengenalku itu langsung menunjukku menjadi ketua kelas. Padahal aku belum menceritakan latar belakangku pada mereka.

Man, jadi ketua kelas itu harus bolak balik ke kaprodi. Untuuung kaprodiku ini dosbing skripsiku dulu. Dosen enak kesukaanku.
Tapi tetep aja aku harus berhasil menjalankan peranku dengan baik dan profesional, gak sak enak e dewe mentang mentang orangnya enak dan sudah kenal baik sama aku. No. aku harus tetep menjembatani mahasiswa yang punya masalah dan mengabarkan segala informasi dari prodi.
Mulai dari nyari kelas pengganti.
sampe yang lebih advanced, konflik-konflik yang terjadi antar mahasiswa.
kesalah pahaman.
nuruti ego para mahasiswa sing ndue idealisme dewe dewe.
nuruti kepentingane dewe dewe.
salah pengertian,
ketinggalan info,
kancrit teko daftar,
and many more.

iyes, they also happen to graduate students yang umurnya udah diatas 22 tahun.
dan sering kali aku ngerasa gagal njembatani untuk beberapa kasus yang terjadi di kelasku.
berusaha cari jalan tengah yang bisa diterima semuanya.
and I applaud my kaprodi yang selalu ngasih solusi tegas :)
Alhamdulillah.....

Tapi aku berpegang dalam satu hal, bahwa untuk beberapa hal aku nggak boleh mutusin semuanya sendirian. Selalu aku minta pertimbangan sebelum melaporkan sesuatu ke dosen. Aku tahu aku orangnya egois dan aku berniat meredam habis semua keegoisan itu. Aku harus belajar lebih humble dan nggak kemakan obsesi. Yes, I really learned from my Oneesan's fuss, dan masih banyak lagi yang harus aku pelajari.

Man, jadi ketua kelas bukanlah hal yang aku bangga banggain. Kalo dulu aku bangga jadi ketua kelas karena aku mengartikan sebagai aku punya akses lebih ke dosen kesayanganku, Oneesan. Tapi ternyata nggak semua interaksiku pada Oneesan berkenan di hati beliau.
Dan  sekarang kondisinya beda. Aku jadi ketua kelas di semua matakuliah dan it means semua dosen dengan mudah mengingatku. Either dosen baik atau dosen yang strict.

Well aku berusaha membangun image yang baik ketika mereka mengingat ketua kelas C. Angie, ketua kelas paling menclek. Otaknya menclek 200 derajat ke tenggara, nyangsang di genteng sebuah kampus yang udah berusia 108 tahun dimana Oneesannya dulu meraih gelar masternya.

Dari sosok seorang Angie jugalah dosen bisa mengingat kelas C. Kelas yang menamakan dirinya Kelas C-inta. Kelas paling diverse di angkatan 2016 dengan rentang usia yang sangat beragam dibanding kelas yang lain. Kelas yang niat banget bikin perayaan waktu kaprodiku menikah. It is an honor to be their coordinator. Dan menurutku, aku sebagai ketua kelas bukanlah sebagai pengatur mereka yang seenaknya nyuruh mereka begini begitu, tapi aku lebih memposisikan diri sebagai penjembatan antara kaprodi, para dosen, pihak TU sama teman-teman. Keputusan kita ambil bersama.

all in all aku bangga sama kita semua!
aku berusaha mempersembahkan yang terbaik, I know I can't please everyone and that's okay. Maka dari itu aku juga butuh temen-temen kelas C semua untuk menciptakan kondisi yang terbaik :)